Ketika Angin, Daun, dan Pohon bercerita

18tree600_2

Pohon

Alasan mengapa orang-orang memanggilku “Pohon” karena aku sangat baik dalam menggambar pohon. Setelah itu, aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak 5 orang wanita ketika aku masih di SMA.

Ada satu wanita yang aku sangat aku cintai, tapi aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Dia tidak memiliki wajah yang cantik, tubuh yang sexy, dan sebagainya. Dia sangat peduli dengan orang lain dan religius. Tapi dia hanya wanita biasa saja.

Aku menyukainya, sangat menyukainya, menyukai gayanya yang innocent dan apa adanya, kemandiriannya, aku menyukai kepandaiannya dan kekuatannya.

Alasan aku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia yang sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku juga takut, jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. Aku juga takut kalau gosip-gosip yang ada akan menyakitinya. Aku merasa dia adalah “sahabatku” dan aku akan memilikinya tiada batasnya dan aku tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.

Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama 3 tahun ini. Dia tau aku mengejar gadis-gadis lain, dan aku telah membuatnya menangis selama 3 tahun.

Ketika aku mencium pacarku yang kedua, dan terlihat olehnya. Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah dan berkata “lanjutkan saja…” dan setelah itu pergi meninggalkan kami. Esoknya, matanya bengkak, dan merah…

Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis, but aku tertawa dengannya seharian. Ketika semuanya telah pulang, dia sendirian di kelas untuk menangis. Dia tidak tahu bahwa aku kembali dari latihan sepakbola untuk mengambil sesuatu di kelas, dan aku melihatnya menangis selama sejaman.

Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya. Pernah sekali mereka berdua perang dingin, aku tahu bukan sifatnya untuk memulai perang dingin. Tapi aku masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget. Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku. Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu bahwa dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia, aku juga sedih.

Ketika aku putus dengan pacarku yang ke-5, aku mengajaknya pergi. Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Aku cerita padanya tentang putusnya aku dengan pacarku dan dia berkata tentang dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang. Aku tahu pria itu. Dia sering mengejarnya selama ini. Pria yang baik, penuh energi dan menarik.

Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakitnya hatiaku, tapi hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada batu yang sangat berat di dadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun tidak bisa.

Air mata mengalir dan aku jatuh menangis. Sudah sering aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya.

Ketika upacara kelulusan, aku membaca SMS di handphone-ku. SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis.

SMS itu berbunyi, “Daun terbang karena Angin bertiup atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal?“

Daun_jambu

DAUN

Selama SMA, aku suka mengoleksi daun-daun, kenapa? Karena aku merasa bahwa daun membutuhkan banyak kekuatan untuk meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali.

Selama 3 thn di SMA, aku dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi “Sahabat”. Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya, aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya, CEMBURU. Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan Lemon. Hal itu seperti 100 butir lemon busuk. Mereka hanya bersama selama 2 bulan. Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya. Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi.

Aku menyukainya dan aku tahu bahwa dia juga menyukaiku, but mengapa dia tidak mau mengatakannya? Sejak dia mencintaiku, mengapa dia tidak yang memulainya dulu untuk melangkah? Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku selalu sakit. Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sakit.

Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi mengapa dia memperlakukanku dengan sangat baik di luar perlakuannya hanya untuk seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati, aku tahu kesukaannya, kebiasaannya. Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui. Kau tidak mengharapkan aku sebagai seorang wanita untuk mengatakannya bukan?

Di luar itu, aku mau tetap di sampingnya, memberinya perhatian, menemaninya, dan mencintainya. Berharap, bahwa suatu hari, dia akan datang dan mencintaiku. Hal itu seperti menunggu telponenya setiap malam, mengharapkannya untuk mengirimku SMS. Aku tau sesibuk apa pun dia, dia pasti meluangkan waktunya untukku. Karena itu, aku menunggunya. 3 tahun cukup berat untuk kulalui dan aku mau menyerah. Kadang aku berpikir untuk tatap menunggu. Luka dan sakit hati, dan dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini.

Ketika diakhir tahun ke-3, seorang pria mengejarku, dia adalah adik kelasku, setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Dari penolakan yang telah dia tunjukkan, aku merasa bahwa aku ingin memberikan dia ruang kecil di hatiku.

Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon. Akhirnya, aku sadar bahwa aku tidak ingin memberikan Angin ini ruang yang kecil di hatiku.

Aku tau Angin ini akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ke tempat yang lebih baik. Akhirnya aku meninggalkan Pohon. Tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal, aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku.

“Daun terbang karena Angin bertiup atau Pohon tidak memintanya untuk tinggal?”

Aneangin

ANGIN

Karena aku menyukai seorang gadis bernama Daun, karena dia sangat bergantung pada Pohon, jadi aku harus menjadi Angin yang kuat.

Angin akan meniup Daun terbang jauh. Ketika aku pertama kalinya, ketika 1 bulan setelah aku pindah sekolah. Aku melihat seorang memperhatikan kami bermain sepakbola. Ketika itu, dia selalu duduk di sana sendirian atau dengan teman-temannya memerhatikan Pohon. Ketika Pohon berbicara dengan gadis-gadis, ada cemburu di matanya. Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya. Memperhatikannya menjadi kebiasaanku, seperti daun yang suka melihat Pohon. Satu hari, dia tidak tampak, aku merasakan kehilangan.

Seniorku juga tidak ada saat itu, Aku pergi ke kelas mereka, melihat seniorku sedang memperhatikan daun. Air mata mengalir di mata daun ketika Pohon pergi, besoknya, aku melihat Daun di tempatnya yang biasa, memperhatikan Pohon. Aku melangkah dan tersenyum padanya. Menulis catatan dan memberikan kepadanya. Dia sangat kaget.

Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima catatanku. Besoknya, dia datang, menghampiriku dan memberiku catatan. “Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena Daun tidak mau meninggalkan Pohon.” Aku melihat ke arahnya dengan kata-kata tersebut dan pelan dia mulai berkata padaku dan menerima kehadiranku dan teleponku.

Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku. Selama 4 bulan, aku telah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20 kali kepadanya. Setiap kali dia mengalihkan pembicaraan… tapi aku tidak menyerah, aku memutuskan untuk memiliki dia dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku.

Aku bertanya, “apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas?” Dia berkata, “aku menengadahkan kepalaku”.

“Ah?” Aku tidak percaya apa yang aku dengar.

“Aku menengadahkan kepalaku” dia berteriak.

Aku meletakkan telepon, berpakaian dan naik taxi ke tempat dia, dan dia membuka pintu, aku memeluknya kuat-kuat.

“Daun terbang karena tiupan Angin atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal”.

                            

Lovejourney
















AKU INGIN

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


=========================================


SAJAK-SAJAK KECIL TENTANG CINTA

/1/
mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat
/2/
mencintai cakrawala
harus menebas jarak
/3/
mencintai-Mu
harus menjelma aku


( Sapardi Djoko Damono)

============================

regards,

-tryingtochangethosequestionmark-

 

Kung Fu Panda : Impian Memang Untuk Dikejar

Kungfupandamovie1515










"Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the present."

(Master Ooguay)




Sinopsis

Po (Jack Black) adalah Panda  penjual mie yang selalu bermimpi menjadi jago kung fu. Sayang ia takut mewujudkan mimpinya karena tak mau mengecewakan ayahnya. Sang ayah sangat berharap Po mewarisi usaha mie keluarga. Bermimpi hal yang sama setiap hari, keinginan Po untuk jadi jago kung fu tak terbendung ketika sebuah perguruan kung fu ternama mencari pendekar naga. Ia pun pergi ke tempat audisi, hingga sebuah kebetulan membawanya menjadi murid perguruan tersebut dan dianggap sebagai si pendekar naga.

Kenapa harus nonton film ini ?

Setelah tertawa lebar-lebar dan sepenuh hati, ternyata badan terasa segar, seperti ada aliran hangat di sekujur badan. Konon, tertawa selama 5 sampai 10 menit dapat merangsang kelenjar endorfin (penghilang rasa sakit dalam tubuh). Endorfin, serotonin dan melatonin dapat menimbulkan perasaan senang dan tenang. Di negara maju, katanya, ada semacam klinik tertawa untuk orang-orang yang mempunyai tendensi depresi dan stress.Pada hakekatnya, merengut memang lebih mudah ketimbang tertawa. Menurut The Power of Laugh, tertawa memerlukan kerja 8 syaraf sedangkan merengut hanya 3 syaraf (!). Tentu saja membuat orang tertawa pastilah lebih susah ketimbang membuat orang merengut. Saya cukup bilang 'gila lu' untuk membuat orang merengut atau bahkan marah dan melempar asbak.

Film ini dijamin dengan sukses akan membuat Anda tertawa terbahak-bahak,lihatlah adegan di awal film ketika si Po bangun tidur dan tidak bisa menegakkan badannya karena terlalu berat!

Atau adegan di akhir film,ketika samar-samar Si Po muncul dari balik debu bekas pertarungannya dengan Tai Lung (Ian McShane), Anda pasti mengira dia memakai jubah dan topi lebar khas pendekar kungfu jagoan,tapi ternyata….


Kata-Kata Mutiaranya itu loh …

"There is no charge for awesomeness - or attractiveness." (Po)

"Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the present." (Master Ooguay)

"One often meets his destiny on the road he takes to avoid it. " (Master Ooguay)

"There are no accidents."
(Master Ooguay)




Atau dialog-dialog cerdasnya …

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tigress : " It is said that the Dragon Warrior can go for months without eating, surviving on the dew of a single gingko leaf and the energy of the universe."

Po : " Then I guess my body doesn't know I'm the Dragon Warrior yet. It's gonna take a lot more than dew, and, uh, universe juice."

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Shifu (Dustin offman) : " That flabby Panda is not a warrior."
HOogway (Randall Duk Kim) : " You just need to believe."

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tai Lung: " You... you're just a big... fat... panda! "
Po:" I'm not a big fat panda. I'm *the* big fat panda "

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(Ketika Si Po sedang jatuh terpelanting menuruni anak tangga ):
Tigress (Angelina Jolie) : " If he's smart, he won't come back up those stairs."
Monkey (Jackie Chan) : " Yet he will, anyway."
Viper (Lucy Liu) : " He'll never stop trying, will he? "
Mantis (Seth Rogen) : " He'll never stop bouncing, I can tell you that."

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Hikmahnya ?

Seringkali dalam mengejar impian kita mengalami banyak cemoohan dan rintangan,tapi seperti lirik lagunya Whitney Houston dan Mariah Carey :

" It can be miracle when You believe… "

Buat aku sih itu artinya terus usaha... and terus usaha.....
*(Tapi ngomong emang gampang sih he..he..he..)




regards,
-Po-



Life is Never Easy, Even When You're Doing Well....

Judul di atas terinspirasi oleh mesej seorang teman pada saat kita secara tak sengaja ngebahas masalah kenaikan harga BBM di Indonesia.


Tapi, kata-kata diatas diambil sama persis dari sini. Postingan dari Mr. Trump (yang kaya raya itu) tahun 2005. Cerita singkatnya kira-kira begini : Mr. Trump kecewa dengan para wartawan. Berbagai macam wartawan yang menulis berita yang tidak benar.


Suatu hari salah satu koran terbesar di Amerika 'New York Times' menerbitkan tulisan seorang wartawan berita yang tidak benar di edisi senin pagi surat kabarnya. Aniway, begitu harian tersebut beredar di pasaran, telpon pengacara Mr.Trump pun berdering untuk dimintai apakah ada sanggahan pada saat itu juga. Mereka tidak mennggu sampai besok harinya karena bisa jadi besok paginya jangan-jangan tuntutan sudah masuk ke kantor polisi. Singkat kata, Mr. Trump menghujat wartawan-wartawan yang berperilaku seperti itu.


'Life in Never Easy, Even When You're Doing Well'


---------------------------------------------------------


Minyak_tanah2r

Ini cerita aseli Indonesia, pemandangan foto di atas percaya atau ngga. Gw temui setiap hari selasa - jumat ketika perjalanan menuju ke kantor gw di bilangan depok. Why? ya...karena disitu ada sebuah pangkalan minyak, dan pangkalan itu akan nerima jatah pengiriman hari itu. Sekitar sebulan-dua bulan yang lalu minyak tanah menghilang dari Depok. Mau tak mau, program konversi energi ke LPG itu terkena juga ke Depok. Pembagian kompor pun dilakukan, gw ga mau ngebahas urusan apakah merata atau tidak.



Yang jelas, pagi itu. Persis di depan antrian, entah knapa gw sengaja mampir ke warung tukan nasi uduk seberang jalan pangkalan minyak tanah itu. Tebaklah siapa yang banyak nunggu disitu? Well... tentu saja ibu-ibu yang sedang bergosip-ria.


ibu x (berkuncirkudahitammanis) : 'Sekarang hidup susah, mo masak aja ga bisa. Minyak tanah gak ada, harga2 naek..'


ibu y (bajuijokipaskipas) : 'Iyah, dulu belanja ke pasar saya bawa 10rb dah bisa masak, sekarang mah boro-boro dapet lauk enak, palingan belanja telor'


ibu x (mulaiseriusmenatapkeibuy) : 'Wah, bener bu! kemaren saya beli cabe aja dah naek, padahal apa hubungannya harga cabe sama minyak tanah?'


ibu y (tetepkipaskipascuek) : 'Udahlah Bu, susah juga hidup klo dipikirin'


Gw (makanudukcelingakcelingukcaricemilanfavorit) : 'Bu, kerupuknya mana???'


Ibu tukang uduk : 'Wah, udah 2 hari ini ga dapet kiriman mas! liat aja tuh...3 kaleng aja kosong semua. 3 pabrik krupuk tutup gara-gara ga ada minyak tanah!, terigunya juga naek katanya'


Gw (sembaripasrah...cuma bisa mikir, buset! 3 pabrik krupuk tutup? berapa karyawan tuh? berapa orang ga makan, ga punya kerjaan yaa?)


untuk orang-orang pekapuran dan pabrik krupuk :


'Life is never that easy, even when you're doing well'


----------------------------------------------------------


 

.......................



our deepest fear is not that we are inadequate
our deepest fear is that we are powerful beyond measure
we ask ourselves, "who am I to be brilliant, gorgeous, talented, and fabulous?"

actually, who are you NOT to be?

we were born to make manifest the glory of God that is within us
and as we let our own light shine...
we unconsciously give other people the permission to do the same...




-"Akeelah and the Bee", originally quoted from Marriane Williamson's book-

Bau

Berita itu menyulut perlahan-lahan bagaikan petasan yang disundut, dan meledak tepat di telingaku ketika Sari, gadis manis di rumah sebelah, membisikkannya setelah menghabiskan sekian menit untuk berpikir.

"Ken yang pertama kali mencium." Wajah Sari memucat ketika dia kupaksa bercerita. Alisnya terangkat, mengingat-ingat.

Ada rasa segan dalam suaranya. "Pada awalnya kupikir Ken mengada-ada. Semua orang tahu, Ken termasuk teman dekat Riko. Mungkin dia masih belum bisa melupakan persahabatan mereka. Tetapi ketika akhirnya aku sendiri mengalami...."

Tubuhku meremang, walau sekuat tenaga kucoba untuk tidak mempercayai hal-hal di luar rasio seperti itu.

Tanah kubur Riko memang masih basah. Kepergiannya belum lagi genap empat puluh hari. Dan airmata keluarga kami masih belum kering. Tetapi berita itu sudah terlanjur menyebar. Penghuni kompleks bagaikan berlomba membisikiku. Bukah hanya Sari dan Ken, pacarnya, tetapi juga Bu Romlah yang punya warung nasi di ujung jalan, Hadi yang anaknya Pak Lurah, bahkan sampai pemuda-pemuda pengangguran yang sering nongkrong di gardu ronda, yang tadinya tidak pernah berhubungan langsung dengan Riko!

Semua membisikkan hal yang sama. Bahwa beberapa hari setelah Riko pergi, menyebar bau sengit di jalan layang dekat kompleks yang baru diresmikan setengah tahun lalu, tempat di mana Riko diketemukan tewas seketika karena kecelakaan.
Sungguh, hal ini merupakan pukulan berat bagi kami sekeluarga. Ibu sampai tidak berani melewati jalan layang itu jika tidak penting benar. Ayah sering termenung di depan rumah. Deki dan Bram lebih memilih naik bis kota ke mana-mana dengan alasan tidak ingin lewat tempat tersebut. Mendadak kami semua menjadi pengecut! Kadang-kadang aku berpikir, apakah benar Riko mengeluarkan bau sengit di ujung jalan itu? Apakah harus semua manusia yang mati basah menjadi arwah penasaran? Bukankah suatu kematian yang tidak disengaja tetap merupakan garis hidup manusia?

"Kalau ingin membuktikan, pergilah ke tempat itu, Riz. Dua hari lagi tepat malam Jumat Kliwon, seperti yang mereka katakan, malam di mana bau semakin menusuk," Ray menghentikan lamunanku.

Perlahan, kutatap matanya. Dia memandangku lekat. Sejak Riko pergi, hanya Ray satu-satunya yang kupercaya. Dia sahabat Riko dalam segala suasana. Anehnya, di saat Riko masih ada dahulu kami justru tidak terlalu akrab.

Melihat aku tetap diam, Ray menyentuh lenganku halus. "Aku berjanji akan menemanimu, Riz, jangan takut," hiburnya lembut.

Detik itu juga tangisku memecah. Aku tidak kuat mendengar berita itu kian menyebar dari mulut ke mulut. Di depanku Ray membisu dengan mata merah. Dia tidak berusaha untuk menenangkanku, atau merengkuhku, tetapi genggamannya pada tanganku semakin kuat. Aku tahu, itu lebih dari sekedar apa yang ingin dia ucapkan.

"Aku sakit hati," bisikku terputus. "Riko saudaraku yang terdekat. Aku lahir beberapa menit setelah dia. Perasaan kami sama, Ray! Dan, sekarang? Kalau Riko jadi hantu... aku ini apa?!"

"Riko sudah pergi, Rizki," Ray menepuk-nepuk punggung tanganku, "tapi kamu masih ada. Disanabedanya. Yang tinggal sekarang adalah perasaanmu. Maka mulailah berpikir dengan logika. Bagaimanapun juga, asal bau itu harus diselidiki."

Tekad Ray membangkitkan semangatku. Dua hari lagi malam Jumat Kliwon. Hanya ibu, orang rumah yang kuberi tahu rencana ini. Nyatanya, tanggapan ibu sungguh di luar dugaan! Ibu memelukku erat, terisak-isak seraya membisikkan sesuatu yang membuat jantungku berdetak lebih kencang.

"Tetapi untuk apa semua itu, Bu?" Kulepas pelukan ibu pelan-pelan, memandang wajah tuanya, mencari jawaban. Aku tidak mengerti. Mengapa hanya karena mendengar celoteh para ibu di perkumpulan arisan kompleks, ibu jadi terpengaruh untuk membuat sesajen atau membeli bunga aneka warna untuk diletakkan di tempat Riko tabrakan?"

"Tolonglah ibu, Riz," Ibu menyusut matanya dengan jari-jari gemetar. "Mereka mengatakan Ibu kurang doa-doa." "Kita beragama, Bu."

"Kalau kita tidak membuat sesajen ini, mereka akan menjauhi kita, mengucilkan kita. Mereka meminta Ibu, agar Riko tenang, agar mereka tenang."

Aku tertunduk. Permintaan Ibu sungguh berat untuk dilukiskan. Kulihat mata Ibu menatap penuh pengharapan.

"Ibu percaya, kalau Riko yang jadi hantu?" Aku tak kuasa menahan tangis. "Riko anak Ibu yang terbaik, Bu. Dia dipanggil lebih cepat dari kita semua, karena Tuhan sayang padanya. Ibu yakin kalau bau itu, adalah... dari anak Ibu?"

Sampai di sini napasku terasa sesak. Ibu memagutku kuat-kuat dengan tubuh menggigil. Sesaat kami tidak tahu harus mengatakan apa.

"Nak," Ibu menatapku dengan wajah pasrah. "Maafkan Ibu. Ibu tidak yakin, juga tidak percaya seperti sangkamu. Tetapi kadangkala di dunia ada sesuatu yang tidak kita yakini tetapi ternyata harus kita percaya, bahwa itu ada. Kau mengerti maksud Ibu?"

Aku terdiam. Dan malam ini, ketika Ray datang menjemput, kuterima tas plastik yang ibu sodorkan berisi tujuh kembang serta sejumlah dupa yang nantinya harus dibakar. Selain itu, Ibu membekaliku dengan doa-doa yang harus kubaca seraya membakar dupa. Entah dari mana datangnya doa-doa semacam itu, aku tidak tahu. Yang jelas, secarik kertas berisi mantra itu kini berada bersama-sama peralatan lainnya dalam tas plastik yang kubawa.

Ray tersenyum ke arahku sesaat setelah pamit kepada Ibu yang mengantar sampai depan pintu. Tetapi senyumnya seketika hilang.

"Wajahmu pucat sekali, Rizki," katanya hati-hati. Digenggamnya tanganku seolah menyalurkan kekuatan. Aku hanya menggumam pelan setelah melihat ke arah tangan kiriku. Ray ikut-ikutan memandang ke sana dan segera menemukan apa yang menjadi beban pikiranku.

"Aku tidak tahu harus menyarankan apa. Aku sendiri juga masih belum percaya," bisiknya lirih.

Kami tiba di ujung jalan pukul dua belas kurang seperempat, tengah malam.
Angin malam menyelusup dingin dari sela-sela jaket yang kurapatkan. Hanya satu dua mobol yang lewat di sana.

 

Ray mengeluarkan senter dan menyorot kesana kemari. Lampu neon di jalan sedikit membantu penghlihatan. Kami memutuskan untuk tegak berdiri bersandarkan dinding beton jalan layang sambil menunggu tepat tengah malam. Sementara itu, kelap-kelip lampu dari bawah, dari arah kompleks dan gedung lain menambah semarak. Kuning, hijau, merah, saling berpadu. Beginilah kehidupan di kota besar. Pada saat segala kegiatan terhenti, suasananya tak pernah tidur.

 

Ray mengangkat tangannya, menunjuk sesuatu. Sebuah daerah gelap di seberang lapangan bola, nyaris terlepas dari pandangan kami. Sungguh beda dengan daerah sekitarnya yang didominasi gerak lampu aneka warna.

"Perkampungan kumuh," kata Ray lambat. "Konon pembuatan jalan ini terjadi di daerah mereka, sehingga mereka pindah kesana
Mataku menyipit. Rumah tanpa lampu, entah dari tikar atau kertas koran, dari kejauhan tampak bergerak-gerak.
"Mereka digusur?"
"Kurasa tidak, Riz. Biasanya mereka mendapat ganti rugi. Entah kenapa, kehidupan mereka tetap begitu saja. Mereka yang tidak mau berusaha atau bagaimana, aku tidak tahu." Mendadak Ray tertawa lirih. Aku melihatnya heran. Bagaimana dia bisa tertawa setelah menerangkan sesuatu yang kontradiktif dengan kehidupan kami, yang membuat batinku tersentuh?

"Mungkin, salah seorang dari mereka ada yang bunuh diri di tempat ini. Siapa tahu tempat ini dulu merupakan tempat dia kencan dengan ceweknya yang sudah lama meninggal...."
"Ray!"

Tawanya terhenti. Ray menatapku dengan mulut terkatup. Kami sama-sama disentakkan pada tujuan semula, sama-sama mengangkat lengan kanan melihat jam. Masih kurang lima menit lagi mencapai tengah malam. Angin malam berhembus kian menusuk. Kutinggikan kerah jaket, dan sat bersamaan ada yang berdesir di tengkukku. Kutahan napas sejenak. Apakah kini aku telah menjadi seorang pengecut, sehingga bulu kudukku terasa berdiri? Atau, ada sesuatu di sekitar kami? Kutajamkan penciuman. Mereka mengatakan, bau itu sangat sengit. Mirip dengan bau mayat yang diberi formalin. Cuping hidungku bergerak, mengendus-endus. Aku belum mencium apa-apa!

Pukul dua belas tepat. Kami masih tegak bersandarkan dinding beton jalan. Ray menyentuhku. "Titipan Ibumu, Riz, bagaimana?"

Tanganku bergerak kaku mengeluarkan barang-barang itu dari dalam tas plastik. Kembang tujuh warna, air bersih, tiga batang dupa, sekotak korek api dan....
"Rizki!" Ray tidak mampu menahan keterkejutannya ketika melihat tubuhku berputar cepat membuang semua yang berada dalam tanganku, ke bawah. Kembang-kembang itu melayang-layang diterbangkan angin, dan dupa itu sudah dari tadi meluncur ke bawah. Kutatap semuanya dengan pandangan jauh. Angin malam kini mendesau berirama di telingaku. Sesaat, kami saling berpandangan. Waktu masih berjalan dan malam semakin sunyi.

"Ray, Riko sudah tenang di sisi-Nya. Dia tidak ada di sini, dia tidak ada di mana-mana. Mereka semua bohong! Pengecut! Penakut!"

Tanpa bicara Ray mengulurkan lengannya, menarik bahuku. Kami melangkah bersama, meninggalkan jalan layng yang panjang dengan puluhan neon di belakang.

***

Ray menghampiriku di kantin dengan wajah berseri. Kupikir ada sesuatu yang hendak dia katakan. Gerak tanganku mengaduk-aduk segelas es alpokat di depan seketika terhenti mendengar berita yang dia bawa.

"Mereka tidak pernah memberitahu, pukul berapa saja bau itu tercium, apakah saat itu kaca mobil mereka terbuka, atau berapa kali dalam seminggu bau itu tercium. Tetapi yang paling utama, Rizki, mereka adalah orang-orang yang tak pernah tahu membedakan bau mayat dan bau dari pabrik tapioka yang kegiatannya baru berhenti pukul sepuluh malam."

Aku ternganga. Pabrik tapioka? Itukah kuncinya? Pabrik itu hanya beberapa kilometer dari jalan layang, tetapi jauh di seberang komplek kami. Dan malam itu, kami berdiri membelakanginya. Tentu saja bau itu tidak tercium. Bukankah menurut informasi yang diterima Ray, kegiatan pabrik hanya berlangsung hingga pukul sepuluh malam?

Keningku mengerut. Ray segera mengambil tanganku.
"Masih banyak hal yang perlu kita pikirkan, Rizki. Bukan hanya cerita-cerita penuh bumbu penyedap sejenis itu."

Aku termangu sejenak, lantas tertunduk tanpa berkata apa-apa. Dadaku sesak.

Ada suatu yang ingin kuceritakan padanya, yang tidak bisa lagi kutahan ketika Ray mendesak.

Cerita tentang Riko tidak pernah berhenti. Cerita itu kini semakin berkembang, justru setelah kepergian kami ke ujung jalan beberapa malam yang lalu. Kini, mereka malah berusaha meyakinkan, ada yang melihat Riko berdiri, bersandar di dinding beton jalan, berdua dengan seorang gadis dengan kaki tak menapak di tanah!

Ray menatapku kuyu. Kami sama-sama tahu siapa yang dibicarakan orang-orang itu. Tetapi cerita telah terlanjur tersebar!

"Kasihan Ayah, Ibu, dan adik-adik," desisku pelan. Di hadapanku, Ray masih mematung. Akhirnya napasnya kudengar mengempas keras. Direnggutnya tanganku tiba-tiba.

"Aku sedih, Rizki," matanya memerah. "Aku tidak mengerti, mengapa ini harus terjadi pada keluarga kalian?"

Sungguh, aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Bagaimana kami harus bicara mengenai hal yang sebenarnya? Bagaimana kami harus menjelaskan asal bau itu, siapa yang berdiri di ujung jalan tepat tengah malam ketika kami berada di sana? Ataukah, manusia sekarang telah terlampau tipis keimanannya?

 

Bu Atun dan Anaknya.....



Saat itu aku sedang duduk di sebuah depot pinggir jalan untuk sekedar mengisi perut. Terminal Baranangsiang-Bogor ini memang selalu sibuk tanpa henti melayani penumpang komuter Jakarta-Bogor. Tak ada kata berhenti di nadi kenek-kenek untuk selalu berteriak mecari penumpang. Sambil menunggu pesananku datang, aku mengedarkan pandangan melihat sekeliling depot ini. Tatapanku terhenti pada seorang ibu yang menangis tanpa suara sambil membalas sms yang baru saja diterimanya. Tanpa ragu kudatangi ibu itu.


"Permisi, bu" Ibu itu menengadahkan kepalanya melihatku. "Boleh saya menemani Ibu disini?" tawarku sambil tersenyum. Ibu itu mengangguk pelan, tetap saja menangis.


" Maaf Bu, kalau Ibu tidak keberatan, Ibu knapa sedih?" aku mengelus punggung telapak tangan ibu itu. Sungguh sebuah pemandangan yang jarang terlihat seorang ibu menangis tersedu-sedu di pinggir jalan seperti itu. Tidak jauh dari terminal lagi.


Ibu itu tetap diam. Pesananku datang, Bu joyo pemilik depot setengah berteriak memanggilku meletakkan semangkuk soto di tempat yang kupilih.. " Ibu sudah makan? ". Gelengan kepalanya yang lemah cukup untuk mengetuk hatiku menawarinya makan di depot. Kupesankan soto semangkuk lagi untuknya.


" Saya ini..." ucapnya tiba-tiba. Kuletakkan sendokku dan kusingkirkan makananku dari hadapanku. Lalu cerita mengalir begitu saja dari bibirnya.


"Saya hanya seorang pembantu rumah tangga harian. Asal saya Ponorogo. Disini saya ngekos. Gaji saya kecil, Dik. Wong saya ini cuma tukang cuci dan setrika baju saja. Tapi anak saya nuakalnyaaaa.... ndak ketulungan, Dik. Saya baru saja disms Paklik saya, katanya Yanto ditangkep polisi. Baru mencuri tv tetangga, dia jual, terus dibelikan minuman keras.


"Saya bingung, Dik. Dapat dari mana saya uang segitu besar untuk nebus Yanto? Wong gaji saya sebulan cuma cukup untuk bayar SPP-nya Yanto dan makan kami selama sebulan. Paklik manggil saya pulang Dik, katanya Yanto mau disidang. Saya ndak mau Yanto dipenjara, Dik...." cerita berhenti sebentar. Ibu itu menyeka peluh di mukanya


."Saya harus pulang dan nebus Yanto, Dik. Tapi saya ndak ada duit"  tangisnya makin menjadi.


Selera makanku hilang seketika. "Ibu masih mau bekerja jadi pembantu?"


"Mau sekali, Dik. Wong saya bisanya ya cuma itu...."


Aku lalu menawarinya bekerja di rumahku. Ibu itu, yang belakangan kuketahui namanya Atun, senang bukan kepalang dan berterima kasih sambil memelukku.


Kuselipkan selembar uang seratusribuan hasilku menulis ke tangannya dan memintanya untuk segera menghubungi segera sesudah ia sampai ke Bogor kembali.



Dia berjanji akan pulang dalam 3 hari dan segera menghubungiku sesampainya dia di terminal ini lagi untuk kujemput.


Hatiku terasa lega bisa membantu Bu Atun. Belum setelah ia menghilang ke gerbang keluar terminal, perutku bernyanyi makin keras. Aku teringat semangkuk sotoku!. Bergegas aku menuju kembali ke depot.

"Wah mas, tadi ngasih berapa ke Bu Atun?" tanya Ibu penjaaga depot dengan wajah setengah cemas. "Ga banyak kok bu, sedikit saja...asal cukup buat dia balik lagi nanti kesini tiga hari lagi", kataku sembari tidak memperdulikannya lagi. Perhatianku benar-benar sudah tertuju ke semangkuk soto panas yang dari tadi menanti di hadapanku.

"Bukan gitu Mas, dia itu memang kerjanya seperti itu. Berpura-pura butuh uang untuk anaknya.... sudah banyak yang tertipu mas, tadinya saya mau ngingetin mas-nya... tapi sudah terlambat....".

"Astaghfirullah.....", gumamku. Tiba-tiba saja, semangkuk soto itu berubah rasanya menjadi makanan termahal yang pernah kumakan......


 

Mas..aku mencintaimu..!!



Kuterima lagi hadiah doa dari masku. Walau Mas Alwan memiliki kekurangan, tetapi kelebihannya jauh lebih banyak. Dia setia, ganteng, cerdas, bertanggung jawab, berjiwa pemimpin, jago diplomasi, berkarisma, dll. Hmm, engkau memang tepat menjadi calonku.


Telah kucalonkan engkau dalam daftar Da'wah Fardiyahku, agar menjadi seorang ikhwan. Ikhwan yang akan turut mengokohkan barisan da'wah. Akhlak dasarmu sudah baik, tinggal sedikit dipoles, maka Insya Allah engkau akan menjadi jauh lebih ganteng dengan keikhwananmu ^ _ ^. Amiin. Bangsa Arab dulu juga seperti itu kan Mas, mereka memiliki akhlak-akhlak dasar yang baik; pemurah, menghormati tamu, setia pada kabilahnya, pemberani, dan lain-lain. Hanya saja akhlak-akhlak baik Bangsa Arab itu belum sempurna karena dilandasi keinginan untuk dipuji dan fanatisme buta. Hingga diutuslah sang nabi akhir zaman yang bersabda, "Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."


Aku siapkan agenda Da'wah Fardiyahku untukmu ya. Dari evaluasiku, di tahun pertama, engkau sedikit sulit dijinakkan (lho?!.memangnya?). Afwan ya Mas, kalau istilahnya begitu. Karena kalau kata orang-orang, aku dan engkau bagaikan manusia dari Timur dan dari Barat. Hal itu sering membuat kita ada dalam kondisi perang dingin dan engkau sering membuatku berlinang air mata. Perbedaan Timur dan Barat itu sungguh kentara, tak ubahnya dua peradaban yang saling berbenturan. Karena engkau suka berkiblat ke millah (cara hidup) dan fikrah (pemikiran) Barat. Afwan, ketika itu pemahaman fiqh da'wahku masih kurang baik, sehingga aku langsung main marah saja kalau melihatmu melakukan hal-hal yang dilarang agama. Dan, nah ya!, aku juga masih ingat ketika aku pertama kali hijrah dan berjilbab, engkau menyeletuk, "Waduh? kayak orang padang pasir!"  Aku sedih mendengarnya, tapi biarlah! ini namanya generasi ghuraba, Mas..


Tahun kedua, da'wahku mulai smooth ya. Maklum, adikmu ini baru paham fiqh da'wah. Ternyata?., dalam berda'wah kita harus lemah lembut dalam menyuruh dan melarang, mengerti apa yang harus dilakukan dan adil terhadap apa yang harus dilarang. Berda'wah itu harus bertahap, karena pemahaman setiap manusia berbeda-beda. Dan tentu saja, tugas kita hanyalah menyampaikan sedangkan hidayah itu dari Allah saja. "Kamu tidak akan bisa memberi hidayah pada yang engkau cintai". Tambahan lagi, kesabaran adalah yang utama. Karena tanpanya, kita akan isti'jal (terburu-buru) inginkan hasil. Padahal Allah tidak menilai hasil, Dia menilai proses. Maafkan aku, Mas! Aku akan mulai mencoba memahami dirimu.


Aku termangu menerima hadiah doamu. Mmm..engkau masih ingat, tidak ya? Di minggu pagi yang cerah, aku duduk di ruang tengah dan engkau keluar dari kamarmu, hendak mencuci mobil di garasi. Tapi aku tertegun melihat penampilanmu. Wah?, ndak salah nih, gumamku kala itu. "Mas, kok pake celana pendek, kan ndak boleh tuh?.." Engkau senyum-senyum mendengar teguranku. "Hehehe, iya nih kalau ketahuan sama anak rohis di kampusku, pasti aku juga dimarahi! hehehe," jawabmu sambil tetap ngeloyor pergi ke garasi. Aku jadi mengernyitkan kening?. Hmm, sudah tahu tidak boleh, tapi kok masih dipakai juga yah (?).


Di lain waktu, engkau kerap menggodaku, "Enaak nih Pizza Hut!", ujarmu sambil mengunyah sepotong pizza yang engkau tahu aku tidak menyukainya. "Itu kan ndak boleh, diboikot!, makan darah orang Palestina lho, Mas?.",  jawabku. "Hehehe, biarin! nyam..nyam", katamu. Tapi di lain waktu, ketika aku membaca Al Qur'an di keremangan malam, tiba-tiba engkau bangun dari tidurmu dan berbaik hati menyalakan lampu, menerangiku membaca kitab-Nya. Syukron! :)


Tahun ketiga, sudah ada dialog antara kita. Dan kalau di evaluasi, engkau hari ini sudah jauh berbeda dari 2 tahun yang lalu. Paling tidak, engkau tak lagi anti Islam, sudah rajin shalat, mulai menyadari perjuangan muslim di Palestina dan bertanya tentang Islam. " Dek!, kenapa sih anak rohis di kampus itu, kecil-kecil dah pada nikah?" Aku sedikit terkejut dengan pertanyaanmu. " Oh..itu karena begini dan begitu..." , jawabku. Di lain waktu engkau bertanya lagi, " Dek, memangnya manfaat Shalat Dhuha itu, apa?".  " Oh ". Itu karena begini dan begitu.. , jawabku. Engkau mengangguk-anggukkan kepala. Dan yang membuatku bersyukur adalah ketika engkau mendukung dan memberikan suaramu untuk partai Islam yang bersih dan peduli. Aku hanya bisa mengucap hamdalah. (Duh! ya Rabbi.., sakit..!).


Dan, aku masih termangu menerima hadiah doa darimu. Sifatmu yang keras, membuat aku teringat akan Umar bin Khattab yang juga keras, tapi lembut hatinya. Mungkin seperti itulah aku mengibaratkanmu. Keras di luarnya saja, tapi sesungguhnya hatimu lembut. Buktinya, engkau menangis kala mbak kita dalam proses ijab qabul. Dan bukankah dulu Umar benci Islam? Apatah lagi engkau tidak separah jahiliyahnya Umar, yang sampai mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Sungguh! aku yakin, engkau bisa berubah, sebagaimana keyakinanku dalam mentarbiyah para mad'u di kampus, karena memang fitrah manusia adalah Islam.


Hmm, dalam 3 tahun Da'wah Fardiyah, engkau belum juga menjadi ikhwan, belum 'mengaji', belum berda'wah. Tetapi aku tak akan putus asa, karena engkau masku!, karena aku sangat merindukan mempunyai mas yang ikhwan!. Aku ingin kita sekeluarga selamat di dunia dan di akhirat. Sekali lagi, aku tetap yakin, manusia bisa berubah!


Hadiah doa darimu membuat aku ingin terus berfikir.  Mas?, sekarang engkau sedang apa ya? Jangan sering pulang malam, nanti sakit. Apakah sekarang engkau sudah menikah? Sudah punya anak? Apakah.. dan apak..a. Aduuh! sakit!. Ya Rabbi!., sungguh dahsyat sakitnya kematian kala kecelakaan itu. Kala ruh berpisah dengan jasad. Dan Illahi Rabbi.., walau sang maut menjemput bertahun-tahun lalu, tetapi sakitnya hingga detik ini masih kurasa!. Ya Allah, aku masih dapat mengingat saat ibu, ayah, mbak dan masku menangisi aku yang terbujur kaku, mengantarku ke tempat peristirahatan " Ya Rabbi ", kala itu langit mendung, bunga-bunga ditaburkan di atas tempatku. Sungguh kehidupan di dunia seperti sehari saja., atau kurang dari itu dan sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan akhirat yang kekal. Akankah aku dapat bertemu lagi dengan keluargaku.


(Merenung) Ya Rabbi!, hingga kini, aku tidak tahu apakah masku sudah menjadi seorang ikhwan?, yang menjadi bagian dari barisan da'wah untuk meninggikan kalimah-Mu. Apakah kami dapat bertemu dalam naungan-Mu? Kurindu persaudaraan abadi, yang bukan hanya karena ikatan darah, tetapi akidah. Ibu.., ayah., mbak, mas. Aku mencintai kalian semua. Dan untukmu Mas Alwan, "Mas, aku mencintaimu karena Allah!".  Semoga kita dipertemukan kembali dalam naungan-Nya. Jazakallah Mas, atas hadiah-hadiah doamu selama ini, doa yang besarnya sebesar gunung, yang engkau kirimkan untukku setiap hari, di setiap shalat malammu. Aku mendengarnya.



Ps. saya bukan abang-abang!!!
quoted from here

Aku ingin menikah Bang!!!

   
      

Aku ingin menikah bang!!!

Itu awal dari suratnya…membuat jantungku berdekap kencang, lalu ku baca surat itu perlahan.


Aku ingin menikah bang!!!
Bukan karena aku ingin melakukan hal yang selama ini dilarang oleh agama, tapi aku ingin menikmati pernikahan itu sendiri.


Aku tau tak mudah untuk menjalani sebuah pernikahan, suatu ikatan erat yang tak bisa dimainkan layaknya orang yang berpacaran. Tapi aku inginkan itu, aku ingin menikmati susahnya menjadi seorang istri, mempunyai anak dan mengurus mereka..aku suka akan hal itu dan aku akan menganggapnya sebagai suatu ibadah karena ada tantangan yang harus aku lalui, disamping menjalankan roda rumah tangga juga berkarir untuk diriku sendiri.


Bukankah kau tau, dari dulu aku ingin sekali menikah muda. Kau mau tau alasannya? Karena aku suka melakukan hal itu, aku merasa bangga menjadi seorang istri sekaligus menyandang status ibu bagi anak-anakku, melihat perkembangan mereka dari kecil hingga dewasa menaklukkan rasa penatku setelah sehari bekerja. Mengurus suami yang sangat aku hormati juga aku cintai, memberikannya limpahan cinta dan ingin selalu tampil cantik didepannya. Itulah yang ingin aku lakukakan.


Aku tau ini gak gampang untukmu, aku tau banyak hal yang engkau fikirkan. Tapi terkadang hal itu hanya sebuah keinginan, dimana manusia tak bisa lepas dari rasa puas. Saat keinginan engkau telah tercapai, engkau pasti menginginkan hal yang lain lagi.


Kau tau sayang??menikah itu ibadah, dengan menikah kau telah menyempurnakan ibadahmu juga agamamu. Menikah bukanlah hal yang paling manakutkan, setidaknya menurut versiku, karena semua tak akan berbeda, kecuali hidup bersama dengan kewajiban masing-masing.


Kau masih bisa beraktivitas seperti biasa, yang berbeda hanyalah kurangnya waktu luangmu
diluar rumah karena ada seorang istri yang menantimu dirumah, menyediakanmu segala hal yang engkau perlukan.


Aku bisa membayangkan betapa bahagianya dengan keluarga seperti itu. Tak ada paksaan juga tekanan, karena semua didasari dengan rasa sayang juga kebersamaan.


Keinginan ini sudah kupendam sejak lama, hanya saja aku juga gak bisa sembarangan memilih calon suami yang akan mendampingiku seumur hidupku.


Satu hal yang perlu kau tau, selama ini aku juga terjebak dalam dua keadaan yang sangat mengganggu fikiranku, menikah atau berkarir.


Karena jika aku memilih untuk menikah, maka karirku tak seperti yang aku inginkan, sementara aku juga ingin sukses dalam berkarir, kebanyakan perusahaan menginginkan karyawan yang belum menikah.


Tapi hasrat ku ini sangat kuat, banyak pro dan kontra akan keinginanku ini, ada yang memberiku nasehat untuk menyegerakan pernikahan, ada juga yang menyuruh kami untuk berkarir karena usia kami yang terbilang muda, hanya saja menurutku usiaku bukan muda lagi, walaupun masih banyak yang lebih tua usianya dan belum menikah, tapi aku mengkhawatirkan usia ini. Aku juga mengkhawatirkan kesalahan yang akan kulakukan dalam menjalin sebuah hubungan yang biasa disebut pacaran.


Menurutku 1 tahun cukup untuk mengenal karakter masing-masing, dan aku rasa aku telah cukup mengenalmu. Apa fikiranku ini salah?


Mungkin engkau tlah banyak menyusun rencana untuk masa depan kita, aku dukung semua itu, tapi aku tak mau terlalu berencana bang, karena terlalu sakit klo semua itu tak seperti yang kita harapkan, bukankah kita lebih mantap menyusun rencana saat kita sudah menikah? Menyatukan untuk satu tujuan, apa apa saja yang ingin kita raih dan kita miliki.


mungkin banyak hal yang terfikir dikepalamu, seperti memiliki sebuah rumah, kendaraan juga yang lainnya, tapi tidakkah kau tau itu pasti bisa kita dapatkan dan aku yakin kita bisa mewujudkannya bersama-sama.


Mungkin engkau adalah penganut faham yang mengatakan belum siap menikah apabila belum mapan dari segi materil, engkau ingin segalanya perfect saat engkau ingin melanjutkan sebuah hubungan ke jenjang pernikahan. Itu wajar, aku tau engkau melakukan semua itu karena kau ingin membahagiakan aku. Semua itu memang sangat kita butuhkan, apalagi di era globalisasi seperti ini, dimana persaingan semakin ketat, juga mahalnya biaya hidup baik primer maupun sekunder.


Tapi sampai kapan kau ingim mewujudkan semua itu?semakin lama waktu berjalan, semakin banyak yang akan difikirkan, dan semakin mahal pula biaya hidup yang harus dikeluarkan..tidakkah kau mengerti akan hal itu.


Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang, tapi jika kita mempunyai niat yang baik untuk suatu urusan, aku yakin Allah pasti memberikan kemudahan, apalagi kita mempunyai niat untuk menyempurnakan.


Tidakkah kau sadari, selama ini engkau telah memiliki niat yang tulus dalam hatimu, walau engkau sempat merasa putus asa, namun perlahan tapi pasti, engkau mendapatkannya satu demi satu, tawaran itu mengalir walau belum seperti yang engkau inginkan, hanya saja itu adalah proses akan niat baikmu.


Aku tak bisa menjelaskan dengan detail akanhal itu, aku takut engkau akan merasa seolah aku mengguruimu atau mungkin memaksamu, bukan-bukan itu yang aku mau, aku hanya ingin meluruskan maksudmu, aku akan tetap menunggumu. Sampai engkau merasa siap. Tapi aku tak mau engkau terus berfikir akan semua materil, karena aku yakin seiring berjalannya waktu kita pasti bisa mewujudkannya bersama-sama.


Banyak orang sukses pada awal ia menikah biasa-biasa saja, tapi karena mereka mau berusaha, bahu membahu dan didampingi oleh istri tercinta, akhirnya mereka bisa mewujudkan cita-citanya.
Untuk itu jangan memaksakan diri untuk segera mewujudkannya, aku tak mau dirimu sakit, hanya kerena bekerja dan tak mengenal waktu beristirahat.


Engkau mengatakan agar aku tak perlu memikirkan dan mengkhawatikanmu, tapi aku tak bisa, karena aku tau sikapmu yang selalu merasa bisa dan menganggap semua mudah, itu yang aku khawatirkan. Istirahat yang kurang dan tidak beraturan bisa membuatmu sakit, bagaimana bisa aku tidak memikirkanmu? Kau tau..engkau adalah semangatku, separuh dari hidupku, ada yang kurang jika sehari saja aku tidak memikirkan dan mendengar kabarmu, bagaimana bisa aku melupakanmu jika engkau sudah terpatri dalam hatiku.


Mungkin kau tak pernah tau akan hal itu, seberapa besar aku mencintaimu, mengharapkanmu tuk menjadi pendampingku. Menjadi imam untukku juga anak-anakku kelak.


Kadang aku juga merasa heran, mengapa aku begitu menyanjungmu, tak perduli akan yang lain. Engkau yang terbaik, segalanya untukku.


Sayang aku terus berdoa untuk kita, semoga Allah memberikan kemudahan dan melimpahkan rahmatnya pada kita. Amien….

 


Tak kuasa aku membaca semua itu, pikiranku berputar, mungkin semua yang dikatakannya pada surat itu benar adanya, surat yang ia kirimkan padaku karena mungkin tak sanggup untuk dia ucapkan..
hatiku terus berkata, apa yang harus aku lakukan?
Tuhan tuntunlah hambaMu ini….


Inspired by Ayat-Ayat Cinta the Movie

         

Segenggam Gundah ( untuk Para Ayah)

"Genggamlah gundahmu dengan senyum karena Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga".

 

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.

 

"Yah, beras sudah habis loh...," ujar isterinya. Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah, besok Agus harus bayar uang praktek."

 

"Iya...," jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, "Besok beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah" 

sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.

 

Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, "Jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya". Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, "Ini, anak siapa minta susunya ke siapa". Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

 

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.

 

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, "Iya, nanti semua Ayah bereskan," meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.

 

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.

 

Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

 

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.

 

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali.

 

Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

 

Sungguh, di antara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

 

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

 

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.

 

----------------------------------------------------------------

 

Sumber: Segenggam Gundah ( untuk Para Ayah) oleh Bayu Gautama