« Bu Atun dan Anaknya..... | Main | ....................... »

Bau

Berita itu menyulut perlahan-lahan bagaikan petasan yang disundut, dan meledak tepat di telingaku ketika Sari, gadis manis di rumah sebelah, membisikkannya setelah menghabiskan sekian menit untuk berpikir.

"Ken yang pertama kali mencium." Wajah Sari memucat ketika dia kupaksa bercerita. Alisnya terangkat, mengingat-ingat.

Ada rasa segan dalam suaranya. "Pada awalnya kupikir Ken mengada-ada. Semua orang tahu, Ken termasuk teman dekat Riko. Mungkin dia masih belum bisa melupakan persahabatan mereka. Tetapi ketika akhirnya aku sendiri mengalami...."

Tubuhku meremang, walau sekuat tenaga kucoba untuk tidak mempercayai hal-hal di luar rasio seperti itu.

Tanah kubur Riko memang masih basah. Kepergiannya belum lagi genap empat puluh hari. Dan airmata keluarga kami masih belum kering. Tetapi berita itu sudah terlanjur menyebar. Penghuni kompleks bagaikan berlomba membisikiku. Bukah hanya Sari dan Ken, pacarnya, tetapi juga Bu Romlah yang punya warung nasi di ujung jalan, Hadi yang anaknya Pak Lurah, bahkan sampai pemuda-pemuda pengangguran yang sering nongkrong di gardu ronda, yang tadinya tidak pernah berhubungan langsung dengan Riko!

Semua membisikkan hal yang sama. Bahwa beberapa hari setelah Riko pergi, menyebar bau sengit di jalan layang dekat kompleks yang baru diresmikan setengah tahun lalu, tempat di mana Riko diketemukan tewas seketika karena kecelakaan.
Sungguh, hal ini merupakan pukulan berat bagi kami sekeluarga. Ibu sampai tidak berani melewati jalan layang itu jika tidak penting benar. Ayah sering termenung di depan rumah. Deki dan Bram lebih memilih naik bis kota ke mana-mana dengan alasan tidak ingin lewat tempat tersebut. Mendadak kami semua menjadi pengecut! Kadang-kadang aku berpikir, apakah benar Riko mengeluarkan bau sengit di ujung jalan itu? Apakah harus semua manusia yang mati basah menjadi arwah penasaran? Bukankah suatu kematian yang tidak disengaja tetap merupakan garis hidup manusia?

"Kalau ingin membuktikan, pergilah ke tempat itu, Riz. Dua hari lagi tepat malam Jumat Kliwon, seperti yang mereka katakan, malam di mana bau semakin menusuk," Ray menghentikan lamunanku.

Perlahan, kutatap matanya. Dia memandangku lekat. Sejak Riko pergi, hanya Ray satu-satunya yang kupercaya. Dia sahabat Riko dalam segala suasana. Anehnya, di saat Riko masih ada dahulu kami justru tidak terlalu akrab.

Melihat aku tetap diam, Ray menyentuh lenganku halus. "Aku berjanji akan menemanimu, Riz, jangan takut," hiburnya lembut.

Detik itu juga tangisku memecah. Aku tidak kuat mendengar berita itu kian menyebar dari mulut ke mulut. Di depanku Ray membisu dengan mata merah. Dia tidak berusaha untuk menenangkanku, atau merengkuhku, tetapi genggamannya pada tanganku semakin kuat. Aku tahu, itu lebih dari sekedar apa yang ingin dia ucapkan.

"Aku sakit hati," bisikku terputus. "Riko saudaraku yang terdekat. Aku lahir beberapa menit setelah dia. Perasaan kami sama, Ray! Dan, sekarang? Kalau Riko jadi hantu... aku ini apa?!"

"Riko sudah pergi, Rizki," Ray menepuk-nepuk punggung tanganku, "tapi kamu masih ada. Disanabedanya. Yang tinggal sekarang adalah perasaanmu. Maka mulailah berpikir dengan logika. Bagaimanapun juga, asal bau itu harus diselidiki."

Tekad Ray membangkitkan semangatku. Dua hari lagi malam Jumat Kliwon. Hanya ibu, orang rumah yang kuberi tahu rencana ini. Nyatanya, tanggapan ibu sungguh di luar dugaan! Ibu memelukku erat, terisak-isak seraya membisikkan sesuatu yang membuat jantungku berdetak lebih kencang.

"Tetapi untuk apa semua itu, Bu?" Kulepas pelukan ibu pelan-pelan, memandang wajah tuanya, mencari jawaban. Aku tidak mengerti. Mengapa hanya karena mendengar celoteh para ibu di perkumpulan arisan kompleks, ibu jadi terpengaruh untuk membuat sesajen atau membeli bunga aneka warna untuk diletakkan di tempat Riko tabrakan?"

"Tolonglah ibu, Riz," Ibu menyusut matanya dengan jari-jari gemetar. "Mereka mengatakan Ibu kurang doa-doa." "Kita beragama, Bu."

"Kalau kita tidak membuat sesajen ini, mereka akan menjauhi kita, mengucilkan kita. Mereka meminta Ibu, agar Riko tenang, agar mereka tenang."

Aku tertunduk. Permintaan Ibu sungguh berat untuk dilukiskan. Kulihat mata Ibu menatap penuh pengharapan.

"Ibu percaya, kalau Riko yang jadi hantu?" Aku tak kuasa menahan tangis. "Riko anak Ibu yang terbaik, Bu. Dia dipanggil lebih cepat dari kita semua, karena Tuhan sayang padanya. Ibu yakin kalau bau itu, adalah... dari anak Ibu?"

Sampai di sini napasku terasa sesak. Ibu memagutku kuat-kuat dengan tubuh menggigil. Sesaat kami tidak tahu harus mengatakan apa.

"Nak," Ibu menatapku dengan wajah pasrah. "Maafkan Ibu. Ibu tidak yakin, juga tidak percaya seperti sangkamu. Tetapi kadangkala di dunia ada sesuatu yang tidak kita yakini tetapi ternyata harus kita percaya, bahwa itu ada. Kau mengerti maksud Ibu?"

Aku terdiam. Dan malam ini, ketika Ray datang menjemput, kuterima tas plastik yang ibu sodorkan berisi tujuh kembang serta sejumlah dupa yang nantinya harus dibakar. Selain itu, Ibu membekaliku dengan doa-doa yang harus kubaca seraya membakar dupa. Entah dari mana datangnya doa-doa semacam itu, aku tidak tahu. Yang jelas, secarik kertas berisi mantra itu kini berada bersama-sama peralatan lainnya dalam tas plastik yang kubawa.

Ray tersenyum ke arahku sesaat setelah pamit kepada Ibu yang mengantar sampai depan pintu. Tetapi senyumnya seketika hilang.

"Wajahmu pucat sekali, Rizki," katanya hati-hati. Digenggamnya tanganku seolah menyalurkan kekuatan. Aku hanya menggumam pelan setelah melihat ke arah tangan kiriku. Ray ikut-ikutan memandang ke sana dan segera menemukan apa yang menjadi beban pikiranku.

"Aku tidak tahu harus menyarankan apa. Aku sendiri juga masih belum percaya," bisiknya lirih.

Kami tiba di ujung jalan pukul dua belas kurang seperempat, tengah malam.
Angin malam menyelusup dingin dari sela-sela jaket yang kurapatkan. Hanya satu dua mobol yang lewat di sana.

 

Ray mengeluarkan senter dan menyorot kesana kemari. Lampu neon di jalan sedikit membantu penghlihatan. Kami memutuskan untuk tegak berdiri bersandarkan dinding beton jalan layang sambil menunggu tepat tengah malam. Sementara itu, kelap-kelip lampu dari bawah, dari arah kompleks dan gedung lain menambah semarak. Kuning, hijau, merah, saling berpadu. Beginilah kehidupan di kota besar. Pada saat segala kegiatan terhenti, suasananya tak pernah tidur.

 

Ray mengangkat tangannya, menunjuk sesuatu. Sebuah daerah gelap di seberang lapangan bola, nyaris terlepas dari pandangan kami. Sungguh beda dengan daerah sekitarnya yang didominasi gerak lampu aneka warna.

"Perkampungan kumuh," kata Ray lambat. "Konon pembuatan jalan ini terjadi di daerah mereka, sehingga mereka pindah kesana
Mataku menyipit. Rumah tanpa lampu, entah dari tikar atau kertas koran, dari kejauhan tampak bergerak-gerak.
"Mereka digusur?"
"Kurasa tidak, Riz. Biasanya mereka mendapat ganti rugi. Entah kenapa, kehidupan mereka tetap begitu saja. Mereka yang tidak mau berusaha atau bagaimana, aku tidak tahu." Mendadak Ray tertawa lirih. Aku melihatnya heran. Bagaimana dia bisa tertawa setelah menerangkan sesuatu yang kontradiktif dengan kehidupan kami, yang membuat batinku tersentuh?

"Mungkin, salah seorang dari mereka ada yang bunuh diri di tempat ini. Siapa tahu tempat ini dulu merupakan tempat dia kencan dengan ceweknya yang sudah lama meninggal...."
"Ray!"

Tawanya terhenti. Ray menatapku dengan mulut terkatup. Kami sama-sama disentakkan pada tujuan semula, sama-sama mengangkat lengan kanan melihat jam. Masih kurang lima menit lagi mencapai tengah malam. Angin malam berhembus kian menusuk. Kutinggikan kerah jaket, dan sat bersamaan ada yang berdesir di tengkukku. Kutahan napas sejenak. Apakah kini aku telah menjadi seorang pengecut, sehingga bulu kudukku terasa berdiri? Atau, ada sesuatu di sekitar kami? Kutajamkan penciuman. Mereka mengatakan, bau itu sangat sengit. Mirip dengan bau mayat yang diberi formalin. Cuping hidungku bergerak, mengendus-endus. Aku belum mencium apa-apa!

Pukul dua belas tepat. Kami masih tegak bersandarkan dinding beton jalan. Ray menyentuhku. "Titipan Ibumu, Riz, bagaimana?"

Tanganku bergerak kaku mengeluarkan barang-barang itu dari dalam tas plastik. Kembang tujuh warna, air bersih, tiga batang dupa, sekotak korek api dan....
"Rizki!" Ray tidak mampu menahan keterkejutannya ketika melihat tubuhku berputar cepat membuang semua yang berada dalam tanganku, ke bawah. Kembang-kembang itu melayang-layang diterbangkan angin, dan dupa itu sudah dari tadi meluncur ke bawah. Kutatap semuanya dengan pandangan jauh. Angin malam kini mendesau berirama di telingaku. Sesaat, kami saling berpandangan. Waktu masih berjalan dan malam semakin sunyi.

"Ray, Riko sudah tenang di sisi-Nya. Dia tidak ada di sini, dia tidak ada di mana-mana. Mereka semua bohong! Pengecut! Penakut!"

Tanpa bicara Ray mengulurkan lengannya, menarik bahuku. Kami melangkah bersama, meninggalkan jalan layng yang panjang dengan puluhan neon di belakang.

***

Ray menghampiriku di kantin dengan wajah berseri. Kupikir ada sesuatu yang hendak dia katakan. Gerak tanganku mengaduk-aduk segelas es alpokat di depan seketika terhenti mendengar berita yang dia bawa.

"Mereka tidak pernah memberitahu, pukul berapa saja bau itu tercium, apakah saat itu kaca mobil mereka terbuka, atau berapa kali dalam seminggu bau itu tercium. Tetapi yang paling utama, Rizki, mereka adalah orang-orang yang tak pernah tahu membedakan bau mayat dan bau dari pabrik tapioka yang kegiatannya baru berhenti pukul sepuluh malam."

Aku ternganga. Pabrik tapioka? Itukah kuncinya? Pabrik itu hanya beberapa kilometer dari jalan layang, tetapi jauh di seberang komplek kami. Dan malam itu, kami berdiri membelakanginya. Tentu saja bau itu tidak tercium. Bukankah menurut informasi yang diterima Ray, kegiatan pabrik hanya berlangsung hingga pukul sepuluh malam?

Keningku mengerut. Ray segera mengambil tanganku.
"Masih banyak hal yang perlu kita pikirkan, Rizki. Bukan hanya cerita-cerita penuh bumbu penyedap sejenis itu."

Aku termangu sejenak, lantas tertunduk tanpa berkata apa-apa. Dadaku sesak.

Ada suatu yang ingin kuceritakan padanya, yang tidak bisa lagi kutahan ketika Ray mendesak.

Cerita tentang Riko tidak pernah berhenti. Cerita itu kini semakin berkembang, justru setelah kepergian kami ke ujung jalan beberapa malam yang lalu. Kini, mereka malah berusaha meyakinkan, ada yang melihat Riko berdiri, bersandar di dinding beton jalan, berdua dengan seorang gadis dengan kaki tak menapak di tanah!

Ray menatapku kuyu. Kami sama-sama tahu siapa yang dibicarakan orang-orang itu. Tetapi cerita telah terlanjur tersebar!

"Kasihan Ayah, Ibu, dan adik-adik," desisku pelan. Di hadapanku, Ray masih mematung. Akhirnya napasnya kudengar mengempas keras. Direnggutnya tanganku tiba-tiba.

"Aku sedih, Rizki," matanya memerah. "Aku tidak mengerti, mengapa ini harus terjadi pada keluarga kalian?"

Sungguh, aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Bagaimana kami harus bicara mengenai hal yang sebenarnya? Bagaimana kami harus menjelaskan asal bau itu, siapa yang berdiri di ujung jalan tepat tengah malam ketika kami berada di sana? Ataukah, manusia sekarang telah terlampau tipis keimanannya?

 

                            

Comments

hehe....aku jadi cengar-cengir sendiri bacanya =)

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .