« Mas..aku mencintaimu..!! | Main | Bau »

Bu Atun dan Anaknya.....



Saat itu aku sedang duduk di sebuah depot pinggir jalan untuk sekedar mengisi perut. Terminal Baranangsiang-Bogor ini memang selalu sibuk tanpa henti melayani penumpang komuter Jakarta-Bogor. Tak ada kata berhenti di nadi kenek-kenek untuk selalu berteriak mecari penumpang. Sambil menunggu pesananku datang, aku mengedarkan pandangan melihat sekeliling depot ini. Tatapanku terhenti pada seorang ibu yang menangis tanpa suara sambil membalas sms yang baru saja diterimanya. Tanpa ragu kudatangi ibu itu.


"Permisi, bu" Ibu itu menengadahkan kepalanya melihatku. "Boleh saya menemani Ibu disini?" tawarku sambil tersenyum. Ibu itu mengangguk pelan, tetap saja menangis.


" Maaf Bu, kalau Ibu tidak keberatan, Ibu knapa sedih?" aku mengelus punggung telapak tangan ibu itu. Sungguh sebuah pemandangan yang jarang terlihat seorang ibu menangis tersedu-sedu di pinggir jalan seperti itu. Tidak jauh dari terminal lagi.


Ibu itu tetap diam. Pesananku datang, Bu joyo pemilik depot setengah berteriak memanggilku meletakkan semangkuk soto di tempat yang kupilih.. " Ibu sudah makan? ". Gelengan kepalanya yang lemah cukup untuk mengetuk hatiku menawarinya makan di depot. Kupesankan soto semangkuk lagi untuknya.


" Saya ini..." ucapnya tiba-tiba. Kuletakkan sendokku dan kusingkirkan makananku dari hadapanku. Lalu cerita mengalir begitu saja dari bibirnya.


"Saya hanya seorang pembantu rumah tangga harian. Asal saya Ponorogo. Disini saya ngekos. Gaji saya kecil, Dik. Wong saya ini cuma tukang cuci dan setrika baju saja. Tapi anak saya nuakalnyaaaa.... ndak ketulungan, Dik. Saya baru saja disms Paklik saya, katanya Yanto ditangkep polisi. Baru mencuri tv tetangga, dia jual, terus dibelikan minuman keras.


"Saya bingung, Dik. Dapat dari mana saya uang segitu besar untuk nebus Yanto? Wong gaji saya sebulan cuma cukup untuk bayar SPP-nya Yanto dan makan kami selama sebulan. Paklik manggil saya pulang Dik, katanya Yanto mau disidang. Saya ndak mau Yanto dipenjara, Dik...." cerita berhenti sebentar. Ibu itu menyeka peluh di mukanya


."Saya harus pulang dan nebus Yanto, Dik. Tapi saya ndak ada duit"  tangisnya makin menjadi.


Selera makanku hilang seketika. "Ibu masih mau bekerja jadi pembantu?"


"Mau sekali, Dik. Wong saya bisanya ya cuma itu...."


Aku lalu menawarinya bekerja di rumahku. Ibu itu, yang belakangan kuketahui namanya Atun, senang bukan kepalang dan berterima kasih sambil memelukku.


Kuselipkan selembar uang seratusribuan hasilku menulis ke tangannya dan memintanya untuk segera menghubungi segera sesudah ia sampai ke Bogor kembali.



Dia berjanji akan pulang dalam 3 hari dan segera menghubungiku sesampainya dia di terminal ini lagi untuk kujemput.


Hatiku terasa lega bisa membantu Bu Atun. Belum setelah ia menghilang ke gerbang keluar terminal, perutku bernyanyi makin keras. Aku teringat semangkuk sotoku!. Bergegas aku menuju kembali ke depot.

"Wah mas, tadi ngasih berapa ke Bu Atun?" tanya Ibu penjaaga depot dengan wajah setengah cemas. "Ga banyak kok bu, sedikit saja...asal cukup buat dia balik lagi nanti kesini tiga hari lagi", kataku sembari tidak memperdulikannya lagi. Perhatianku benar-benar sudah tertuju ke semangkuk soto panas yang dari tadi menanti di hadapanku.

"Bukan gitu Mas, dia itu memang kerjanya seperti itu. Berpura-pura butuh uang untuk anaknya.... sudah banyak yang tertipu mas, tadinya saya mau ngingetin mas-nya... tapi sudah terlambat....".

"Astaghfirullah.....", gumamku. Tiba-tiba saja, semangkuk soto itu berubah rasanya menjadi makanan termahal yang pernah kumakan......


 

                            

Comments

gubraaaaaaaaaksss....
udh baca serius-serius...dasarrr *_*

bu atun... bu atun.... tapi, bu atun ga bakalan kayak gituh juga kalo hidupnya berlebihan... :D

iklaaaasss...

hmm.... gw udh termehek-mehek... yeh kasus tnyata..... apessssss...... tapi pahalanya gde bos.. klo iklas...

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .